Oleh : Mustamir, S.Pd
Pernahkan Anda menulis karya ilmiah?
Hmmm, jika mendengar pertanyaan itu biasanya akan terjadi perubahan ekspresi. 🤭
Kening mengernyit, mata melirik ke atas.
Sambil bergumam, ehmmmm.....
Betul tidak, hi hi hi..
Padahal kita pernah loh membuat karya ilmiah, walaupun sekali seumur hidup. 🤭
Yaa, saat skripsi kita membuat karya ilmiah sebagai syarat lulus strata S1 perguruan tinggi.
Bagaimana jika kali ini kita mengulang kesuksesan membuat karya ilmiah.
Loh..loh..loh..
Jangan mengernyit lagi dong.
Kali ini kita akan menulis buku dari karya ilmiah.
Dengan bimbingan narasumber yang mumpuni kita akan melampaui keragu-raguan kita.
So, ready kan untuk masuk kelas malam ini...
Yesss, i'm ready
Moderator memulai acara dengan bersemangat,
Assalamualaikum w.w.
Salam sejahtera untuk kita semua
Salam Literasi
🙏🥰💪👆
Puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah atas nikmat yang luar biasa sehingga malam ini kita bisa bertatap layar melalui huruf dan kata yang bisa dibaca
Bapak ibu guru hebat di nusantara, ijinkan saya Mr. Bams memandu malam ini hingga nanti pukul 21.00 WIB.
Malam ini materi yang luar biasa akan bapak ibu terima dari narasumber berikut ini :
Profil narasumber bisa dibaca diatas ya 🙏😊
Semoga bapak ibu guru hebat menikmati materi malam dengan penuh riang gembira. Siapkan makanan kecil juga minuman yang menghangatkan.
Malam ini walau di rumah gelap gulita karena aliran listrik PLN sedang off. Tapi tetap semangat untuk memandu malam ini.
Bagi yang bertanya silahkan hubungi 088809405468 sebutkan nama, tempat asal. 🙏😊
Narasumber memulai memberikan materi :
Terima kasih Mr Bams
Pa @~Mas Echo bagaimana kabarnya? Assalamualaikum
Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah sehat Mr
Insya Allah siap menemani malam ini
Alhamdulillah,mari kita simak materi luar biasa dari pa Eko, saya persilahkan 🙏😊
Terima kasih Mr Bambang Purwanto, S.Kom, Gr. Atau Mr Bams atas kesempatan yang diberikan.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua. Semoga semua dalam keadaan sehat.
Bersama-sama marilah kita panjatkan syukur ke hadirat Allah Sang Maha Pencipta
Berkat ridha-Nya kita dapat berjumpa pada KBMN Gelombang ke 30
Salam hormat rekan-rekan nara sumber hebat serta Bapak Ibu yang berkenan menyimak melalui grup Sebuah kehormatan bagi saya karena untuk kesekian kalinya diundang Tim Solid Om Jay untuk berbagi pengalaman di KBMN
Perkenalkan nama saya Eko Daryono dan lebih dikenal dengan panggilan Maseko. Sebelumnya saya mohon maaf karena baru malam ini dapat hadir dari jadwal seharusnya.
Materi yang saya bawakan malam ini adalah Menulis Buku dari Karya Tulis Ilmiah
Tema yang cenderung teoristis dan bikin pusing mengingat tidak ada standarisasi konversi KTI menjadi buku.
Terlebih sekarang ada dua model lisensi yakni ISBN dan QRCBN yang tentu saja tuntutan content dalam buku akan berbeda dimana ISBN lebih cenderung ke buku bacaan umum sedangkan QRCBN bisa menyesuaikan dengan isi KTI
Saya rasa Bapak Ibu sudah mendapatkan materi terkait anatomi buku ISBN dan QRCBN dari ahlinya Bunda Kanjeng pada pertemuan ke-23 Rabu kemarin
Sebelum masuk ke ranah konversi, terlebih dahulu perlu dipahami Karya Tulis Ilmiah itu apa dan seperti apa
Definsi Karya tulis ilmiah menurut Perka LIPI No 2 /2014 merupakan tulisan perseorangan atau kelompok dari hasil penelitian dan pengembangan, tinjauan, ulasan, kajian, dan pemikiran sistematis yang yang memenuhi kaidah ilmiah
KTI dapat dibedakan menjadi dua macam yakni KTI nonbuku dan KTI buku
KTI Nonbuku
KTI bidang akademis untuk mendapatkan gelar -> tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi
KTI hasil penelitian -> PTK, PTS, best practice, makalah, artikel, jurnal
KTI berupa ulasan -> resensi
KTI Buku
Buku Bahan Ajar -> diktat, modul, buku ajar, buku referensi
Buku Pengayaan -> monografi, buku teks, buku pegangan, buku panduan
Buku kompilasi -> bunga rampai, prosiding
Bagi yang ASN guru Karya Tulis Ilmiah yang terdapat dalam buku 4 PKG untuk pengembangan diri yakni:
Publikasi Ilmiah Berupa Hasil Penelitian atau Gagasan Ilmiah Bidang Pendidikan Formal -> Laporan PTK/PTS, Best Practice, Tulisan Ilmiah Populer.
Publikasi Buku Teks Pelajaran, Buku Pengayaan, dan Buku Pedoman Guru.
Karya Inovatif -> Teknologi Tepat Guna, Karya Seni, Membuat/Memodifikasi Alat Pelajaran/Peraga dan Alat Praktikum.
Ternyata tidak semua KTI itu berupa buku. Memang secara wujud, PTK, PTS, Tugas Akhir, skripsi, tesis, desertasi itu berupa buku, namun bukan buku. Lebih tepatnya adalah laporan hasil penelitian dan sifat publikasinya pun terbatas.
Anatomi KTI umumnya tersusun atas bab-bab dengan penomoran yang struktural sesuai dengan jenis KTI serta institusinya. Babnya pun bersifat formil.
BAGIAN AWAL -> Lembar Pengesahan, Kata Pengantar, Abstraksi, Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Lampiran
BAB I PENDAHULUAN -> Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian.
BAB II KAJIAN TEORETIS -> Tinjauan Pustaka, Hasil Penelitian yang Relevan, Kerangka Pemikiran, Hipotesis (jika diperlukan).
BAB III METODE PENELITIAN -> Jenis Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian, Subjek Penelitian, Data dan Sumber Data, Teknik Validitas Data, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN -> Hasil Penelitian, Pembahasan, Temuan Hasil Penelitian.
BAB V PENUTUP -> Simpulan, Implikasi dan Saran.
BAGIAN AKHIR -> Daftar Pustaka, Lampiran, Bionarasi.
Umumnya anatomi KTI seperti itu.
Nah apa bedanya anatomi KTI di atas dengan buku?
Secara subtansi isi, tidak ada perbedaan isi laporan KTI dengan isi buku hasil konversinya. Karena sejatinya isi buku mencerminkan keseluruhan isi laporan KTI khusus untuk anatomi buku ber-QRCBN karena aturan content yang lebih fleksibel.
Untuk anatomi ISBN, anatomi bukunya memang benar-benar berubah dan nyaris tidak nampak lagi isi KTI-nya karena memang harus dikembangkan menjadi buku bacaan
Secara sistematika, tentunya gaya penulisan KTI dengan penulisan buku tentu berbeda. Ada penyesuaian-penyesuaian sistematika KTI yang dikonversi menjadi buku dengan tujuan agar kesannya tidak kaku. Misalnya penomoran tiap sub bab-sub bab
Secara Bahasa, meski sama-sama ilmiah, hasil konversinya tentu harus dimodifikasi sehingga Bahasa dalam bukunya lebih luwes, bersifat lugas dan tidak lagi mencantumkan kata-kata seperti penelitian ini, peneliti, teman sejawat, penulis,
Lantas bagaimanakah cara mengkonversi laporan KTI menjadi buku?
Langkah Pertama adalah memodifikasi judul KTI menjadi judul buku.
Judul KTI umumnya mengandung unsur : variabel penelitian, objek penelitian, dan seting penelitian (baik tempat maupun waktu).
Judul buku hasil konversi harus menarik, unik, mudah diingat, dan mencerminkan isi buku. Kemenarikan judul buku sifatnya subjektif.
Contoh judul KTI : UPAYA MENINGKATKAN KETRAMPILAN MENULIS AKSARA JAWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF KARTU ARISAN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI X TAHUN PELAJARAN 2023/2024
Bisa menjadi judul buku : KETRAMPILAN MENULIS AKSARA JAWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF KARTU ARISAN
Langkah kedua yakni Memodifikasi Sistematika dan Gaya Penulisan.
Nah, pada saat laporan tersebut dikonversi menjadi buku, maka harus dimodifikasi gayanya sesuai dengan gaya penulisan buku. Tidak tampak lagi adanya sub bab-sub bab yang membuat isi buku seolah-olah terpisah-pisah'
Bagaimana nasib bab-bab dalam KTI?
Nasib bab tergantung pada anatominya, mau di ISBN kan atau di QRCBN kan?
Jika menggunakan anatomi ISBN, maka semua yang berbau istilah penelitian atau hasil penelitian ditiadakan.
Itu saya ambil dari buku konversi salah satu peserta KBMN juga yang kebetulan saya menjadi convertornya
Untuk yang ber-ISBN memang membutuhkan ekstra pikiran dan ekstra waktu
Lalu bagaimana kalu yang penerbitannya ber-QRCBN?
Karena tidak terikat content harus menjadi bahan bacaan umum, maka anatominya lebih fleksibel bisa memanfaatkan 75% isi PTK sedangkan yang 25% memang harus didelete.
Sebagai contoh perbandingan berikut ini
Jika dibuat buku maka anatomi babnya menjadi seperti ini :
Bab III yang berisi metode penelitian biasanya diringkas menjadi satu atau dua paragraph dan dimasukkan pada bab IV di bagian awal sebagai prolog
Misal ringkasannya : Pembahasan pada bab ini didasarkan pada laporan action research yang dilaksanakan pada kelas VII A semester I tahun pelajaran 2023/2024 dalam mata pelajaran IPS materi Penampakan Alam...dst
Lantas untuk Bab IV nya sejatinya merupakan bagian inti isi buku, sesuai dengan judul buku. Bab IV tidak lagi menggunakan judul Hasil Penelitian dan Pembahasan, namun disesuaikan dengan konteks buku. Sebagai kisi-kisi, judul buku dapat menjadi pilihan sebagai judul Bab IV
Pada buku bab IV dapat dimasukkan tabel, grafik, foto-foto kegiatan maupun hasil penelitian yang menyatu dalam buku
Maksudnya bahwa tabel, grafik, foto-foto kegiatan tidak lagi berada dalam lampiran namun dibuat menyatu dengan buku yang tentunya disesuaikan narasinya.
Lampiran dapat disertakan namun hanyainstrument penelitian atau hasil olah data. Adapun data-data yang menyangkut privacy sebaiknya dibuat kode-kode atau dibuat tabulasi. Lampiran seperti RPP, kisi-kisi soal, soal boleh dilampirkan
Oh ya tadi ada yang terlewat, untuk bagian pendahuluan (bab I) berisi mengenai fenomena sebagaimana isi poin latar belakang dalam naskah laporan aslinya ditambah dengan fenomena kekinian agar pentingnya isi buku dapat ditonjolkan sejak awal sehingga pembaca merasa tertarik untuk membaca keseluruhan isi buku. Boleh dipertahankan judulnya Pendahuluan
Selanjutnya,. apa yang perlu diperhatikan saat mengkonversi buku
Baik yang mau di-ISBN-kan maupun yang di-QRCBN-kan sama kaidahnya
Pertama, laporan hasil penelitian memang benar-benar karya asli dari penulis alias bukan plagiasi baik seluruhnya maupun sebagian.
Kedua, memanfaatkan berbagai gaya selingkung untuk sumber bahan kompilasi atau pendapat dari penulis lain
Ketiga, jeli dalam memilah dan memilih data yang dipublikasikan sehingga buku yang dihasilkan menarik
Keempat, modifikasi bahasa baku. Hindari pemakaian penanda transisi menurut hal itu sesuai dengan pendapat lebih lanjut si A menyatakan berdasarkan hal tersebut
Kelima, hindari pengambilan sumber kutipan kedua atau pendapat yang kurang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah Lebih valid jika penulis bisa mendapatkan sumber pertama
Keenam, menuliskan semua daftar Pustaka yang dipakai sebagai rujukan dalam buku untuk mendukung keabsahan buku untuk menghindari citra plagiasi
Jika dianalisis secara detail ternyata mengkonversi KTI menjadi buku gampang-gampang susah.
Daripada susah-susah, bolehkah jika laporan KTI apa adanya langsung dijadikan buku?
Sah-sah saja penulis langsung menerbitkan KTI-nya menjadi model seperti buku namun perlu diingat jika menghendaki buku ber-ISBN maka harus berpikir lebih mendalam karena jelas akan tertolak.
Jadi perlu dipahami diawal bahwa : Meng-ISBN-kan KTI tidak sama dengan mengkonversi KTI menjadi buku ber-ISBN
Diawal kegiatan menulis ini dulu saya sempat juga membeli model laporan KTI yang di-ISBN-kan dari salah satu peserta yang isinya ternyata hanya meng-ISBN-kan laporan KTI. Dulu memperoleh ISBN masih mudah namun sekarang sangat selektif sekali
Demikianlah sesi berbagi pengalaman dari saya. Sesi saya serahkan kembali kepada Mr Bams selaku moderator
Moderator mengambil alih kembali acara:
Luar biasa materimya. Sambil menunggu pertanyaan masuk ke 088809405468 Pa Eko silahkan untuk minum hangat sebentar.
Pertanyaan 1
Assalaamu'alaikum. Dari Agus Hendrawan Pak, masih bingung tentang QRCBN, mohon pencerahan...:)
jawaban pertanyaan 1
Wa'alaikumsalam Pak Agus. Fungsi dari QRCBN, pada dasarnya sama dengan ISBN yaitu, untuk memberikan identifikasi kepada sebuah yang diterbitkan. Buku ber-QRCBN biasanya ditandai dengan adanya QR Code dibagian belakang buku.
QRCBN juga diakui dalam penerbitan buku hanya saja levelnya tidak sama dengan ISBN. ISBN lebih diakui dan merupakan kode buku resmi Internasional, sehingga tidak semua buku mendapat ISBN. Jadi QRCBN menjadi opsi bagi penulis yang tidak bukunya dapat memperoleh ISBN
Begitu Pak Agus jawaban saya. Terlebih Perpusnas sudah tidak menerbitkan ISBN untuk buku-buku hasil penelitian
Pertanyaan ke-2
Selamat Malam
Bapak Eko
Salam
Saya Wiwin dari Kediri
Untuk KTI Skripsi Apabila menelah sebuah buku yg kita jadikan skripsi
Untuk buku yg kita telaah...
Adakah batas waktu yang bisa dijadikan / cetak buku ISBN
Terima kasih informasinya
Jawaban pertanyaan ke-2
Terima kasih Bu Wiwin atas atensi dan pertanyaannya.
Tidak ada batasan waktu bagi hasil KTI yang akan diterbitkan menjadi buku. Kapanpun bisa diterbitkan jika sudah siap. Terlebih jika mau di-ISBN-kan bisa sewaktu-waktu karena contentnya bahan bacaan. Hanya saja yang mungkin menjadi perhatian adalah ke-update-an berbagai teori yang dikutip. Tentunya tahun kutipan semakin lama akan semakin usaha.
Hal tersebut tercermin dari kaidah penulisan KTI seperti skripsi/tesis dimana penulis dianjurkan untuk mengambil bahan kutipan 5 tahun sebelumnya.
Semakin usang maksud saya... Demikian Bu Wiwin
Pertanyaan ke-3
Nama : Fazar Azhari
Garut Jawa Barat
Terimakasih atas pemaparan materinya, sangat bermanfaat khususnya dalam mengolah KTI menjadi sebuah buku.
Izin bertanya mengenai syarat sebuah naskah buku mendapat ISBN atau QRCBN itu apa saja ya pa ? Terimakasih.
Jawaban pertanyaan ke 3
Terima kasih Bapak Fazar Azhari. Mengacu pada definisi buku menurut UNESCO maka jumlah halaman isi minimal 50, bagian-bagian bukunya lengkap (ada halaman awal termasuk cover, isi, dan halaman akhir), terbitan tercetak tidak berkala. Dasi aspek content, untuk ISBN fokus pada bahan bacaan umum sedangkan QRCBN bisa bahan apa saja termasuk laporan KTI utuh mau dibukukan langsung juga bisa tanpa dikonversi
Pertanyaan ke-4
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Selamat malam, saya Hidmi dari Lombok NTB
Apa saja syarat pengajuan buku ISBN dan QRCBN ?
Terima kasih
Jawaban pertanyaan ke-4
Wa'alaikumsalam. Syarat pengajuan buku ber ISBN yakni : Dilengkapi Surat Keaslian Karya, Minimal Isi Naskahnya 50 halaman diluar halaman awal dan halaman akhir, naskah sudah rapi diedit maupun di layout mulai dari cover hingga lembar terakhir, content buku adalah bacaan umum
Sedangkan untuk pengajuan buku ber-QRCBN umumnya tidak memerlukan surat keaslian karya dan contentnya bebas. Misalnya hasil tulisan KBMN dari pertemuan 1 hingga 30 atau maun nubar (antologi) sangat bisa diterbitkan ber-QRCBN
Jika ingin meng-ISBN-kan hasil KBMN, maka content-content inti dari para master narasumber yang bisa diambil dan dikembangkan. Hasilnya pasti luar biasa dan bisa ber-ISBN
Pertanyaan ke-5
Assalamualaikum pak
selamat malam, terimakasih atas materinya pak...
mau nanya pak apa QRCBN ini dalam penghitungan angka kredit untuk naik pangkat sama poinnya dengan buku yg ber ISBN pak? maaf pak nanya karena sy masih awam dan baru dapat ilmunya dari bapak. terimakasih pak atas jawabannya 🙏
Jawaban pertanyaan ke-5
Wa'alaikumsalam. Terima kasih atas pertanyaannya. Setahu saya sesuai dengan buku 4 PKG pada halaman 25 disebutkan bahwa syarat buku fisik yang dinilai adalah buku yang ber-ISBN. Jadi kalau QRCBN karena belum ada peraturannya maka tidak mendapatkan kredit point
Intinya belum diakui untuk memperoleh kredit point dalam kenaikan pangkat karena belum diatur regulasinya
Pertanyaan ke-6
Bu Hidni Lombok:
buku yang targetnya ISBN berarti buku jenis tertentu ya? Kategori buku apa saja pak?
Jawaban pertanyaan ke-6
Terima kasih Bu Hidni dari Lombok. Content buku ber-ISBN sebenarnya bebas bu hanya sifatnya bahan bacaan. Bisa apa saja bu yang intinya bukan berupa laporan hasil penelitian. Bu Hidni punya karya sastra misalnya puisi, novel, kumpulan cerpen, pantun pun bisa di-ISBN-kan asalkan memenuhi syarat penerbitannya. Jadi tidak mengarah pada buku jenis tertentu. Bisa dalam berbagai bidang. Bu Hidni punya resep masakan khas Lombok pun bisa dijadikan buku ber-ISBN
Pertanyaan ke-7
Assalamualaikum, lebih mahal mana harga buku berisbn dengan yang QRBN?
Wiwik Setiandani_Bogor
Jawaban pertanyaan ke-7
Wa'alaikumsalam Bu Wiwik. Kalau menerbitkannya mahal buku ber-ISBN bu dibanding QRCBN. Kalau harga belinya tergantung pada penulisnya. Bisa jadi buku berQRCBN lebih mahal dari buku berISBN karena contentnya lebih premium. Selama ini masyarakat memang belum begitu familiar dengan QRCBN. Berbahagialah yang mengikuti kelas KBMN karena mendapat pemahaman tentang hal tersebut
Alhamdulillah tepat 1 menit ke pukul 21.00 WIB pertanyaan sudah surut. Saat untuk memberikan Pernyataan terakhir. Silahkan pak 🙏😊
Baiklah Bapak/Ibu semua. Materi pada malam ini mungkin materi yang rumit, namun menjadi materi yang disampaikan pada KBMN. Dasarnya bahwa Bapak/Ibu insya allah punya modal dasar yakni sudah pernah membuat laporan KTI dan bahkan sekarang memilikinya entah berupa PTK/PTS/Best Practice/Skripsi/Tesis dan sebagainya.
Modal tersebut tentu sayang jika hanya tenggelam di rak buku tanpa dibagikan dengan khalayak umum yang bisa jadi menginspirasi. Makanya perlu diterbitkan menjadi buku setelah dikonversi.
Hal itu juga menjadi sarana untuk beramal dengan ilmu yang kita miliki.
Demikian yang dapat saya sampaikan pada malam hari ini, terima kasih bapak/ibu, terima kasih Tim Solid Om Jay, terima kasih Mr Bams yang setiap menemani. Banyak kekurangan yang saya sampaikan mohon maaf. Selamat malam dan selamat beristirahat. Wassalamu'alaikum warahmatulahi wabarakatuh
Alhamdulillah materi pa Eko malam ini luar biasa, terima kasih banyak atas Ilmu dan pengalaman yang telah diterima oleh bapak ibu guru hebat. Semoga menjadi amal kebaikan.
Terima kasih semua
Kalau haus minumlah air Prima agar ada Perasaan rindu bersama. Rindu untuk menulis bersama karya luar biasa.
Saya Mr. Bams unsur pamit, semoga materi malam ini menjadi jalan untuk semakin semangat berkarya dan terus berkarya
Waalaikumsalam w.w.
Salam sejahtera untuk kita semua
Salam Litersi
Mr. Bams
penamrbams.id
🙏❤️💪👆
Dari pada karya tulis di rumah nganggur, dan dimakan rayap atau jadi pajangan saja.
Nih KTI kalian bisa dijadikan buku..
Berikut caranya!






Tidak ada komentar:
Posting Komentar